Halaman

Welcome To Achmade's Blog

Rabu, 25 Juli 2012

Sendiri Itu Terapi



Siapa kata sendiri itu tidak bahagia? Tidak menggembirakan? Zahirnya, orang mungkin nampak seseorang yang bersendirian itu menyedihkan kerana kekosongan tanpa ditemani. Namun, pada hakikatnya mereka yang bersendiri itu lebih bahagia sebenarnya.

Bila sendiri, kita mempunyai banyak ruang untuk muhasabah diri. Biarpun sendiri, kita tetap takkan berada dalam relung kesunyian. Kerana dengan bersendiri, kita mampu merasai kehadiranNya di sisi kita. SubhanaAllah! Mampu untuk merasa redup kasihNya yang lagi menenangkan.

Sendiri, mengajar kita untuk memperbaiki diri sendiri tanpa gangguan dan halangan daripada mereka-mereka.

Sendiri itu terapi. Terapi untuk menguatkan iman. Terapi untuk perbaiki hubungan dengan Sang Pencipta. Terapi untuk memperbaiki habluminnanas (hubungan sesama manusia). Terapi untuk membetulkan setiap yang sumbang.

Kerana, dengan bersendiri, seseorang mampu untuk berfikir dengan rasional tentang segala hal duniawi mahupun ukhrawi. Mampu membuatkan seseorang mencari kembali dirinya yang telah hilang. Mampu menilai antara kaca dan permata. Mampu membezakan antara hitam dan putih.

Sendiri itu juga terapi untuk menghapuskan parut-parut dosa yang dilakukan. Apa gunanya berteman seandainya diulit dengan cengkaman dosa? Tentulah hati takkan tenang apabila dosa-dosa tersebut menghantui. Astargfirullahalazim...

Sesungguhnya, sendiri itu terapi yang indah. Terlalu indah bagi mereka yang benar-benar memahami istilah sendiri. Allah SWT ciptakan sendiri itu untuk mengembalikan semula hambaNya yang 'hilang'. Dia biarkan kamu yakni insan yang terpilih untuk bersendiri hanya semata-mata inginkan kamu kembali ke jalanNya. Bukan untuk menghukum kamu. Sebaliknya, untuk menyatakan kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya.
 
Jadi, janganlah bersedih apabila sendiri. Bersangka baiklah dengan Allah.

Allah SWT berfirman:

"Aku akan bersama (mengikut) sangkaan hamba-hambaKu. Maka hendaklah kamu bersangka dengan apa yang kamu inginkan" (Hadis Qudsi Riwayat At-Thabrani)

Percayalah, setiap keadaan atau peristiwa itu mempunyai hikmah yang kadangkala dapat kita fikir sendiri (namun kadangkala hikmah itu tidak dapat difikir oleh kita manusia biasa). Ingat, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita.

#iluvislam.com

Kamis, 19 Juli 2012

Video Game Lebih Menarik Dibanding Seks

Lebih dari 72% menghindari bermalam dengan pasangan jika ada game baru yang akan beredar.

 

Menurut sebuah survey yang diungkapkan di majalah PlayStation3, terungkap bahwa satu dari tiga orang pemain konsol game PlayStation 3 lebih suka bermain video game dibandingkan dengan bermain cinta dengan pasangannya.

Lebih dari 72 persen mengklaim bahwa mereka akan menghindari bermalam dengan pasangannya jika ada game baru yang akan beredar keesokan paginya. Dari komentar yang terkumpul, sejumlah pemain game menyebutkan bahwa pacar lebih susah untuk disenangkan, dan seks sendiri tidak lebih menyenangkan dibandingkan dengan bermain game.

Survey sendiri melibatkan 1130 orang pemain game asal Inggris yang memiliki pasangan. Meski begitu, tidak disebutkan sampai sejauh mana pasangan hubungan antara pasangan yang disurvey.

Seperti VIVAnews kutip dari Fudzilla, 4 April 2009, jika mereka diberi uang 50 poundsterling, atau sekitar 850 ribu rupiah, mereka akan menghabiskannya untuk video game. Riset sendiri dilakukan oleh situs PlayStation3 yakni www.PS3pricecompare.co.uk, website spesialis perbandingan harga independen yang mengklaim dapat membantu pengguna menemukan konsol dan game baru dengan harga termurah.

Meski demikian, survey tersebut masih harus dibuktikan lebih lanjut. Pasalnya, responden yang mengisi survey merupakan tipe orang yang membeli majalah PS3 tersebut yang diperkirakan merupakan fanatik berat game yang memang nyaris seluruh waktu dan perhatiannya tercurahkan pada game yang mereka mainkan.

http://news.viva.co.id/

 

Tewas Setelah Main Komputer 40 Jam Non-Stop

Penggemar game online asal Taiwan meninggal setelah menjalankan sesi 40 jam bermain "Diablo III." Game jenis Role Playing Game (RPG) ini menawarkan keseruan kisah perjalanan membunuh monster dan melarikan diri dari ruang bawah tanah. Game ini dinilai dapat menimbulkan kecanduan bagi pemainnya.

Diablo III merupakan video game online yang populer. Bagian yang paling menarik terlihat setiap akhir game. Pemain harus membangun kekuatan karakter. Kekuatan ini untuk mengalahkan sang musuh utama, Diablo.

Sayangnya, ini menjadi game terakhir yang dimainkan remaja laki-laki asal Taiwan. Dia bermain terus-menerus di ruang khusus warnet Tainan, selatan Taiwan. Dia mulai datang pada tengah hari pada 13 Juli 2012. Dia terus bermain tanpa makan selama dua hari.
Pengelola warnet memasuki ruangan itu pada pagi harinya, 15 Juli 2012.
Remaja ini ditemukan pingsan dengan kepala terkulai di meja. Setelah dibangunkan, remaja ini sempat sadar.
Ketika berjalan beberapa langkah, dia langsung pingsan. Dia dinyatakan meninggal tidak lama setelah tiba di rumah sakit.  

Banyak detail insiden ini belum terungkap. Menurut News.com.au, polisi sedang menyelidiki penyebab kematian dan melakukan autopsi.

Polisi berspekulasi waktu bermain yang sangat lama ini dilakukan dalam posisi duduk yang sama terus-menerus. Ini diduga menimbulkan masalah kardiovaskular pada remaja Taiwan ini. Huffington Post menyebutkan dugaan serangan jantung ini belum terbukti.

Name lengkap pemain game ini belum diketahui. Dia hanya disebut dengan nama depan Chuang. Remaja laki-laki ini dikatakan berusia 18 tahun.

Pembuat game, Blizzard mengeluarkan pernyataan duka cita.

"Kami berduka mendengar kabar ini. Kami mengucapkan turut berbelasungkawa kepada keluarga dan teman-teman pada masa yang sulit ini. Kami merasa belum dapat berkomentar lebih lanjut sebelum mengetahui semua kondisi yang terjadi," tulis produsen game World of Warcraft ini dalam pernyataan resminya.

"Kami menyadari kebebasan individu atau orangtua dan wali untuk menentukan kebiasaan bermain game. Kami merasa moderasi jelas diperlukan. Pengawasan terhadap kehidupan harian seseorang perlu dilakukan dalam setiap bentuk hiburan apapun," tulis Blizzard.

Kematian karena bermain game ini bukan yang pertama terjadi di Taiwan. Sebelumnya, seorang pria telah meninggal di Taipei setelah bermain video game selama 23 jam non stop.

http://news.viva.co.id/

Fisik Seorang Gamer bak Kakek Pecandu Rokok

Terlalu banyak bermain game ternyata tak selalu membawa dampak yang baik.
Kendati seorang gamer profesional papan atas, bisa menyabet hadiah ratusan juta rupiah, namun konsekwensi yang musti ditebus juga tidak murah. Terutama bagi kesehatan tubuh.

Berdasarkan penelitian akademis, seorang gamer memang memiliki refleks atau reaksi seperti seorang pilot. Namun, untuk masalah kesehatan, fisik seorang gamer bisa dibilang seperti kakek-kakek pecandu rokok.

Sebuah riset yang diadakan oleh Dominic Micklewright dari University of Essex baru-baru ini, menguji para gamer melalui serangkaian tes fisik dan tes psikologi.
Tujuannya untuk menentukan apakah game, yang selama ini disebut-sebut sebagai 'olahraga cyber' atau 'olahraga elektronik', memang bisa benar-benar diklasifikasikan sebagai olahraga.

Ternyata hasil survei tersebut memperlihatkan hasil yang cukup mencengangkan. Secara mental dan psikologis, gamer profesional memang bisa dikategorikan sebagai atlet. Reaksi mereka terhadap rangsangan visual secepat reaksi seorang pilot pesawat tempur.

''Waktu reaksi mereka, kemampuan motorik, faktor kompetitif serta emosi yang mereka miliki mirip dengan para atlet olahraga," kata Micklewright seperti dikutip dari Telegraph.

Buktinya, seperti layaknya seorang atlet, gamer memiliki kadar yang tinggi dalam hal berfikir positif. Potensi mereka terhadap perasaan negatif, depresi atau mengalami fatigue juga sangat rendah. "Kami melihat kesamaan karakteristik pada seorang gamer.''

Sayangnya keuntungan itu tidak disertai dengan aspek kebugaran yang dimiliki oleh para gamer. Salah seorang gamer papan atas berusia 20-an tahun, yang memiliki tubuh ramping dan sehat bak seorang atlet, ternyata tak sebugar penampilannya.

Riset ini menyibak berbagai 'masalah' di dalam tubuhnya. Fungsi paru-paru serta kesehatan yang dimiliki gamer mirip sekali dengan kondisi seorang perokok berat di usia 60-an tahun.

Micklewright memperkirakan, hal ini disebabkan oleh gaya hidup seorang gamer yang biasanya menghabiskan waktu sekitar 10 jam per hari di depan layar komputer. Micklewright memperingatkan anak-anak muda terhadap gaya hidup semacam ini.

''Seharusnya seseorang seusia dia, bisa jauh lebih sehat. Namun karena tuntutan pekerjaan, ini bisa terjadi. Implikasi jangka panjangnya sangat merugikan kesehatan termasuk meningkatnya resiko penyakit jantung," dia menambahkan.

http://news.viva.co.id/